Kamis, 31 Mei 2018

Ramblings: Perokok Remaja

Merokok membunuhmu. Kurang lebih begitulah bunyi pesan peringatan yang tertera di setiap kemasan produk rokok. Itu berarti mereka yang membeli sekotak rokok setidaknya pernah membaca peringatan tersebut sehingga tahu bahwa merokok berbahaya bagi tubuh, namun sayangnya mereka tidak pernah menaruh perhatian. Aku tidak habis pikir mengapa banyak orang masih melakukannya. Bahkan angka pengisap rokok di negeri ini malah semakin tinggi saja, terutama pada kelompok usia 15 s.d. 19 tahun atau yang kita sebut sebagai remaja.

Menurut Global Youth Tobacco Survey, Indonesia adalah negara dengan angka perokok remaja teringgi di dunia. Banyak dari mereka mulai merokok pada usia 12 s.d. 13 tahun untuk laki-laki dan usia 14 s.d. 15 tahun untuk perempuan. Sulit dibayangkan, ketika remaja lainnya, misalnya saja aku, pada usia tersebut masih meminta orangtua membelikanku buku cerita yang ditulis oleh remaja-remaja seusiaku, mereka justru sudah mencoba mengisap rokok tanpa menyadari resiko dari perbuatan itu. Bagiku hal ini tidak masuk akal, tapi begitulah kenyataannya dan ini sungguh sangat memprihatinkan. Hal ini membuatku bertanya, apa yang membuat mereka melakukannya? Dan apa yang harus kita lakukan sebagai sesama remaja agar tidak melakukan perbuatan yang sama?

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Peribahasa ini mungkin sesuai bagi remaja yang mulai merokok karena mengikuti orangtuanya. Sejak kecil, sudah secara alami anak akan meniru apa yang orang dewasa lakuakan dan orangtua adalah figur yang kesehariannya mereka jadikan panutan. Tidak sedikit remaja yang mengaku merokok karena orangtua mereka juga merokok. Keadaan ini diperparah dengan tidak adanya larangan dari orangtua karena telah menganggap perbuatan tersebut sebagai hal yang biasa.

Selain karena orangtua, banyak juga perokok kelompok usia remaja yang mulai merokok karena pengaruh teman-teman mereka. Bukan hal yang mengherankan, mengingat kelompok usia tersebut pada umumnya lebih sering menghabiskan waktu bersama teman-teman daripada bersama keluarga. Kemungkinan besar, para remaja itu mencoba merokok karena tawaran teman yang perokok. Sebuah studi menyatakan bahwa remaja yang memiliki teman perokok berpeluang delapan kali lebih besar untuk ikut merokok dibandingkan remaja yang memiliki teman bukan perokok. Beberapa dari mereka yang mendapatkan tawaran itu, kuyakini, menerimanya tanpa berpikir panjang. Rasa penasaran terlalu menguasai mereka sehingga beranggapan tidaklah mengapa mencobanya sekali saja. 

Dari kedua pengaruh di atas, terdapat satu hal lagi yang paling memengaruhi remaja menjadi perokok pemula, yaitu iklan dan promosi dari produk-produk rokok. Fakta ini cukup membuatku terbeliak karena sejujurnya aku tidak pernah begitu menaruh minat pada iklan-iklan tersebut. Tetapi teman-temanku, para remaja di luar sana justru melihatnya sebagai suatu hal yang menarik. Tidak jarang memang, aku menemui iklan rokok terpampang pada media-media reklame di sepanjang jalan setiap kali aku berangkat sekolah maupun yang beredar di media internet yang merupakan teman terdekat para remaja. Pasalnya, industri rokok memang sengaja menjadikan para remaja sebagai sasaran, menargetkan mereka menjadi konsumen setianya di masa mendatang.

Ironinya para remaja yang sudah mencoba merokok itu, tidak memiliki cukup wawasan mengenai benda yang telah diisapnya. Mereka tidak mengetahui─atau mungkin tidak mau tahu─bahwa di dalam gulungan tembakau itu terkandung zat adiktif berupa nikotin yang dapat membuat otak berkeinginan mendapatkan pasokan nikotin lagi dan lagi sehingga sekali saja mencoba akan menyebabkan ketergantungan yang pada akhirnya membentuk kebiasaan buruk yang sulit dihentikan hingga dewasa.

Pada sebuah wawancara terhadap seorang perokok, responden menyatakan bahwa ia telah merokok sejak berusia 16 tahun. Ia mulai merokok karena itulah yang dilakukan semua orang di lingkarannya: keluarga dan teman-temannya dan tidak ada satu pun dari mereka yang memberi tahunya mengenai resiko dari perbuatan itu. Ia baru mengetahui setelah membaca peringatan di kotak rokok yang dibelinya, sebelumnya ia bahkan tidak pernah memperhatikan pesan itu tertulis di sana. Tetapi saat mengetahui hal tersebut, benda kecil itu terlanjur menjadi candu baginya. Responden juga bercerita bahwa awalnya ia hanya penasaran sehingga mencoba mengisap satu batang. Kemudian esoknya timbul keinginan untuk melakukannya lagi, namun satu isapan belum membuatnya puas sehingga diisaplah dua. Keesokannya lagi ia mengisap dua batang dan karena belum puas, diisaplah tiga. Begitu seterusnya hingga suatu saat tanpa ia sadari, puluhan batang rokok telah habis diisapnya hanya dalam satu hari. Kejadian seperti inilah yang mungkin juga dialami banyak perokok remaja lainnya.

Karena itulah, kita, para remaja, terutama yang belum─dan kuharap tidak akan─pernah merokok, perlu waspada. Kita harus menjaga diri agar tidak terpengaruh oleh ajakan-ajakan berbuat hal-hal yang menyimpang, sekalipun itu terlontar dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Tidak hanya itu, penting bagi kita untuk menambah wawasan mengenai rokok beserta bahaya-bahaya akibat mengisapnya sehingga membuat kita berpikir dua kali sebelum menerima tawaran orang lain untuk merokok. Sadarkan teman-teman kita dengan wawasan yang kita punya agar mereka terbebas dari pengaruh rokok. Karena remaja yang keren itu remaja yang tidak merokok. Dan yang tidak kalah penting, biasakanlah hal yang benar, bukan membenarkan hal yang biasa.

Selamat Hari Tanpa Tembakau Sedunia!

Rabu, 25 April 2018

Finally Moved to a Brand New Blog

Aku tidak tahu dari mana harus mengawalinya.

Baiklah. Pertama, halo dan selamat datang di blog baruku! Lama sudah, kita tidak berjumpa. Aku berharap kalian baik-baik saja di manapun kalian berada.

Selama kurang lebih dua windu berturut-turut ini, aku menghilang dari blogspot. Aku tidak memposting apapun di blog lamaku, Dunia Thifal, setelah postingan terakhirku yang hanya berisi dua buah foto kegiatanku di sekolah. Ini postingan pertamaku di tahun 2018 yang kutulis setelah sekian lama hiatus sekaligus merupakan postingan perdana di blogku yang baru. Dan pada kesempatan ini, aku akan berbicara mengenai banyak hal, terutama yang berkaitan dengan keputusanku membuat blog ini.

Sudah sekitar 7 tahun lamanya aku berada di platform ini dan itu adalah waktu yang relatif lama. Aku mulai menulis blog sejak 2011, saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Mamakulah yang mengenalkan blog kepadaku. Beliau mengajariku bagaimana cara membuat blog, membuat postingan di blog, menambahkan widget, dan lain-lain hingga akhirnya aku bisa mengembangkan blogku sendiri.

Pada akhir 2016 silam, aku benar-benar bingung. Ketika aku membuka dan membaca kembali semua postingan di blog lamaku, aku merasa kacau. Aku tidak tahu pasti apa yang telah kutulis selama ini. Tulisan-tulisan itu terkesan dibuat asal-asalan, bukan, sejujurnya memang kubuat begitu. Semua tulisan itu, meskipun sebenarnya tidak semua juga, tidak terkonsep dengan baik. Saat itulah aku menyadari bahwa selama ini aku benar-benar tidak memiliki sesuatu yang layak untuk dibagikan kepada para pembaca blogku dan aku merasa kecawa pada diriku sendiri akan hal itu. Saat itu pula aku mulai bimbang, haruskah aku berhenti melakukan ini (blogging)?

Tahun telah berganti, namun aku masih memikirkan hal yang sama. Aku adalah satu dari sekian banyak orang yang tidak bisa mengistirahatkan pikiranku bahkan hanya untuk sejenak dan lebih memilih menuangkan isi pikiranku melalui tulisan dan bukan melalui pembicaraan. Jadi ketika aku berhenti menulis, isi pikiranku membeludak, tidak bisa dibendung lagi. Akhirnya, pada pertengahan tahun lalu, aku memutuskan untuk bertahan.

Pada awalnya keinginanku bukanlah memulai lagi dari awal, melainkan meneruskan apa yang telah kumulai. Namun sejak aku mulai bereksperimen lagi dengan template dan kode-kode html yang memusingkan di sebuah blog baru yang memang pada awal tujuan dibuatnya hanyalah untuk percobaan demi kesempurnaan blog utama, keinginanku mulai berubah. Aku ingin mengawalinya lagi.

Sebuah keputusan yang tidak mudah pada pertengahan tahun itu, mengingat segala konsekuensi yang mau tidak mau harus kuterima bila aku benar-benar memilih untuk memulai blogging lagi dari awal. Aku harus meninggalkan blog lamaku yang telah kubangun selama hampir ¾ dasawarsa ini beserta 117 pengikutnya─yang mungkin akan terus berkurang setelah ini─dan beralih ke blog yang benar-benar baru untuk memulainya dari nol. Namun pada akhirnya keputusan itulah yang kuambil─tentu saja, bila bukan itu tulisan ini mungkin tidak akan pernah kubuat. Aku sangat berharap, di blog ini, aku bisa berbagi sesuatu yang tidak hanya menarik, tetapi juga bermanfaat untuk pembaca sekalian.

Mengenai blog lamaku, sebelumnya aku berniat menghapusnya karena aku takut tempat itu mungkin akan disalahgunakan, dijadikan media untuk memberi komentar-komentar berupa spam yang tidak senonoh, seperti yang telah terjadi. Beruntungnya aku langsung mengetahuinya dan dengan segera menghapus komentar tersebut. Namun setelah kupikirkan dengan segala pertimbangan, salah satunya bahwa blog itu adalah tempat di mana aku belajar banyak hal yang mungkin suatu saat akan menjadi sesuatu yang bisa kukenang, aku memilih untuk membiarkannya. Hanya saja, hampir seluruh postingan di sana sudah kuhapus sejak lama dan aku menonaktifkan kolom komentar di postingan-postingan yang tersisa. Jadi bila kalian, baik dengan sengaja maupun tidak, mengunjungi blog lamaku dan berkeinginan memberi masukan, kritikan, atau sekedar menyapa, silakan lakukan itu di blog ini.

Dan kepada siapapun yang mungkin menyayangkan keputusanku─aku yakin tidak ada, karena mungkin tidak ada yang membaca tulisan ini─aku harap kalian bisa menghargai keputusan yang telah kubuat.

Sekian dan terimakasih.
Salam hangat, Thifal.